Senin, 22 Agustus 2016

PAMIT


Aku pamit.

Kalimat itu sudah diketik, hampir saja dikirim pada sebuah nomor yang selama ini cukup spesial baginya. Tapi kalimat berisi dua kata itu dihapus lagi. Ia justru mematikan handphonenya.

Menyimpan di bawah bantal. Kemudian, ia menangis. Menangis pelan namun deras. Tidak ada artinya kata pamit. Semua berawal tanpa kata, selesai pun tanpa kata, pikirnya. Perempuan itu lalu sejenak terdiam, menatap dinding birunya yang mengusam, membaca lembar demi lembar catatannya yang menuliskan semua perasaannya.

Perempuan sembilan belas tahun itu masih menangis.

Tiga tahun lalu, tanpa kata cinta layaknya sepasang muda-mudi menjalin tali asmara, dua orang ini justru saling menjauh, memilih menghindari perasaan mereka, sampai suatu waktu, tabir-tabir tersingkap dan mereka pun tak mampu menutupi lagi apa yang ada di hati mereka. Tidak ada tali apapun yang mengaitkan hati mereka, sungguh tidak ada. Atau kalaupun ada, mungkin tali itu yang disebut orang-orang bernama perasaan.

Tidak ada yang tahu, tapi sesosok laki-laki yang ia beri nama “Langit” mengerti dan memahami. Sesosok laki-laki itu membuatnya memiliki harapan. Jauh perjalanan mereka. Harapan-harapan itu menggantung dalam doa. Hingga perempuan itu kini mendapati banyak “Langit” yang juga siap memantulkan warna birunya untuknya. Perempuan itu jengah.

Bukan ia berhenti mencintai Langitnya, tapi karena ia mengerti satu hal. BELUM SAATNYA MENCINTAI LANGIT. Sungguh belum saatnya. Dan kali ini, ia benar-benar menghayati kalimat itu.

Aku pamit.

Kalimat itu diketiknya lagi. Tapi satu persatu hurufnya ia hilangkan lagi dengan tombol backspace. Perempuan itu akhirnya terdiam. Ia tahu hatinya sungguh lemah. Berkali-kali kata pamit itu terucap, tapi perasaan itu belum juga mau pamit dari tuannya.

Maka ia memutuskan untuk diam, berusaha menjadi tegar. Diam-diam, ia pamit pada perasaan yang pernah ia sebut cinta. Diam-diam, ia pamit pada kata penantian yang pernah memenuhi halaman buku catatannya. Tiba-tiba, ia membiarkan semuanya berjalan sebagaimana mestinya tanpa perasaan menyesal, apalagi takut kehilangan. Diam-diam, ia berhenti mengamati gradasi warna biru yang ditampakkan Langit. Diam-diam, ia menutup semua ceritanya sendirian. Perempuan itu menjadi tegar.

Ia tengah asyik bercerita dengan taman bunganya. Ia tengah asyik bercengkerama dengan bunga-bunganya yang mekar. Ia tengah asyik mensyukuri karunia-Nya. Ia tengah asyik belajar bagaimana caranya menjadi bunga yang mekar dan indah untuk dipetik.

Tidak ada yang berubah.

Ia memilih pamit.

Dan lihatlah, Tuhan menguatkan hatinya.

Mungkin, di suatu waktu, hari, dan tempat yang dirangkai-Nya, ia akan kembali bertemu dengan Langit. Ia harus menatap birunya, bahkan bercengkerama dengan matahari dan bulan bintangnya. Bahkan, mungkin, perempuan itu juga berkesempatan untuk menjelajahi isi Langit. Mungkin.

Jika seseorang yang ia sebut Langit itu dia yang membuat ia menangis malam ini, maka memang garis Tuhan menitahkan begitu. Jika bukan, Langit itu pasti tetap biru dan membuatnya bahagia. Karena takdir Tuhan tidak akan pernah tertukar.

Perempuan itu lalu tersenyum di antara bulir-bulir air matanya. Sungguh, ia tidak tahu apa yang ada di dalam hati seseorang yang ia sebut Langit itu. Mungkin, ia masih menyimpan harapan. Mungkin, di dalam hati perempuan itu juga. Aku juga tidak tahu isi hatinya. Aku hanya seonggok buku yang pernah ditulis oleh perempuan itu. Aku pernah tahu tentang semua isi hatinya. Ah, tapi perempuan itu sekarang benar-benar merahasiakan tentang perasaannya. Yang aku tahu, penanya selalu mengatakan, “dia yang mengatakan pada yang membuatku ada, yang akan mendapatkan jawabannya.”

Kalau takdir sudah berkehendak, maka tidak ada apapun yang bisa memisahkan. Melalui pena ini, kukembalikan hati yang pernah kujaga.

Kukembalikan nama yang bertahun membuatku tersenyum juga menangis.
Kukembalikan kisah pada keindahan skenario-Nya. Aku ingin berbahagia di taman bungaku. Dan kamu, berbahagialah di hamparan luasmu. Bawa cahayamu jika benar kau ingin jadikanku bulan di malammu. Lakukan saja, jangan janjikan. Toh, takdir Tuhan, tidak akan pernah tertukar.

Tanpa sepatah kata pun, perempuan itu pamit. Ia pamit pada hatinya sendiri.
Tidak ada yang perlu disesali dari sebuah perasaan yang menyesakkan, karena fitrahnya manusia mengalami itu. Tapi membiarkan rasa sesak berlarut dalam penantian juga tidak baik. Lebih baik menyibukkan diri belajar, menyibukkan diri memperbaiki kualitas hati dan diri, meyibukkan diri bercerita bersama taman-taman bunga.

Perempuan itu, mungkin nanti juga akan jatuh lagi. Mungkin ia akan menangis lagi. Tapi, semoga tulisan ini membuatnya ingat, bahwa takdir-Nya tidak akan pernah tertukar. Semoga tulisan ini membuatnya tegar. Semoga membuat tegar pula perempuan-perempuan lain yang tengah jengah oleh rasa sakit, rindu, galau, dan perasaan lain karena “Langit” mereka.

Senin, 15 Agustus 2016

UNTUK SEMENTARA WAKTU


Kita masing-masing sendiri untuk sementara waktu. Kesabaran adalah hal terbaik yang bisa kita pertahankan saat ini. Untuk sementara waktu saja. Kita biarkan hidup kita berjalan sendiri-sendiri. Meski kita merasakan hal yang sama saat ini. Biarkan saja itu mengalir seperti hujan yang jatuh. 

Tidak perlu memaksakan waktu untuk bersama. Padahal waktu kita belum sampai. Tuhan menyampaikan pesan-Nya agar kita menjaga diri untuk sementara waktu. Kan semua hanya sementara?

Jika kamu kehilangan sabar. Aku mungkin akan kehilanganmu. Untuk sementara waktu jagalah hati kita masing-masing tetap berada pada tempatnya. Tetap berada pada perlindungannya. Sampai waktu dimana dia harus diberikan dan diterima oleh orang lain. Sampai waktu dimana kita akan menerima hal yang sama pula dari orang lain.

Untuk sementara waktu. Bersabarlah. Karena kesabaran adalah hal terbaik yang bisa kita perjuangkan saat ini. Bukankah untuk sementara waktu saja. Tidak lama, tidak akan menghabiskan seluruh hidup kita bukan?

P.s : Semoga Allah tetap menjadi yang pertama.

Minggu, 14 Agustus 2016

MAAF, SERIUS YANG SEPERTI APA?


"Kamu mau gak jadi pacar aku?"


Kalimat ini bakal terdengar aneh saat diucapkan sesama anak masjid, kenapa?


Ya karena mereka tau kalo sebenernya pacaran itu gak boleh. Tapi ya masih ada aja sih yang nyoba.

Ketika ada sesama anak masjid yg ngungkapin perasaannya, sejatinya bakal ada 3 peluang, yaitu :

1. DITERIMA
Gak fikir panjang, mungkin karna fakir perhatian, masih suka iri klo liat orang pacaran, ga peduli hati berontak, jadiin aja.

2. BINGUNG
Biasanya masih menimbang-nimbang, mikir kira-kira lebih banyak untungnya apa ruginya. "Hmm, udah ganteng, bawaannya RX King, banyak duit lagi, tapi dosa gak yah?". Dan kebanyakan ya dijadiin juga.

3. NASEHATIN
"Lah? Bukannya pacaran itu gak boleh ya mas? Mas anak masjid kan? Ngajinya udah sampe surat Al-isro' ayat 32 belum?"

Nah! 


Setan mah ga kehabisan akal yah. Kalo digoda lewat pacaran ga berhasil, masih banyak jalur lain kok. Yang paling musim sih lewat jalur "serius" tapi modus.


Gak segan-segan kadang cowo berani ngomong, "Iya, aku tau pacaran itu dilarang, aku mau ngajak kamu SERIUS!"


Nahh.. kadang cewe yang buta pengalaman dalam hal cinta-cintaan, bakal seneng banget ada cowo yg begini.

Awalnya dr Direct Message, pindah ke chat, ngajak ketemuan (tapi beduan), nonton, makan, makin ngerasa nyaman, makin bahagia, akhirnya? Yaelah, sama aja~

KARENA,
Yang namanya Serius itu: (S)aling m(E)ndekatkan di(RI) menuj(U) (S)urga.

Dia dateng ke rumah kamu, dia bilang ke orang tua kamu, ngajak istikhoroh, ngajak sholat hajat, ngejaga kamu dari sekecil apapun Perbuatan Dosa yang bikin hubungan kalian gak Barokah. Itu baru SERIUS!

Klo kedekatan kamu yang katanya "serius" itu masih berbau Dosa, itu sih bukan Serius, tapi ya modus yg dibungkus rapih dengan kata "Serius".


Kecuali kamu emang lebih seneng dipacarin, dari pada diseriusin.

Kalo begitu sih, kita selesaikan saja tulisan ini.

Kamis, 11 Agustus 2016

SUKSES DUNIA & AKHIRAT


Bismillah.. 
"Yarjunna rohmattahu wayakhofuna adzaba"

Kata-kata tersebut merupakan do'a dan harapan dari setiap orangtua kepada anaknya. Saya menulisnya pada dekstop layar komputer dan akun sosial media instagram saya dengan maksud sebagai kata-kata penyemangat, obat paling ampuh ketika rasa malas menghampiri. Semoga Allah paringi kemudahan, kelancaran, kebarokahan dan kelulusan. Aamiin.

Kamis, 04 Agustus 2016

NYAMAN DAN AMAN

Nyaman dan Aman. 
Dua kata yang menurut saya tidak berdampingan. 
Namun ada setelahnya. 
Karena nyaman belum tentu aman. 
Begitu pikir saya.

"Ketika kamu nyaman dalam melakukan kebaikan, Allah akan selalu menjaga hatimu untuk terus senang dalam melakukannya. Begitupula, ketika kamu nyaman dalam melakukan kejelekan." - Instajokam

P.s : Orang yang tidak baik, ia akan membuatmu nyaman ditempat yang salah, dan ia akan membuatmu gelisah ditempat yang benar. 




Senin, 01 Agustus 2016

AGUSTUS

Hujan bulan Agustus
Jujur dan sederhana



Keberuntungan adalah milik mereka yang bersiap
Keberhasilan adalah milik mereka yang berjuang
Kemenangan adalah milik mereka yang berpikir
Kebenaran adalah milik mereka yang belajar

Kebebasan adalah milik mereka yang ikhlas melepaskan
Kemudahan adalah milik mereka yang sabar melapangkan
Kebaikan adalah milik mereka yang istiqomah melakukan
Keindahan adalah milik mereka yang saling mendo'akan dan memaafkan

Kebahagiaan adalah milik mereka yang bersyukur
Kemuliaan adalah milik mereka yang jujur

Dan tidak ada satu pun nasib manusia yang bisa berubah
Kecuali dia sendiri yang mengubah

Keberuntungan, keberhasilan, kemenangan, kebenaran,
Kebebasan, kemudahan, kebaikan, keindahan,
Kebahagiaan, kemuliaan,
Adalah milik mereka yang berubah.

Menangkan!

P.s : Bismillah. Niati karena Allah, kerjakan dengan bilma'ruf

Minggu, 31 Juli 2016

PINTAR SAJA TIDAK CUKUP TANPA ADANYA KEFAHAMAN AGAMA

Assalamualaikum,

Kemarin saya bertemu dengan salah seorang sahabat, kita menghabiskan waktu disalah satu cafe disebuah toko buku. Dia bercerita dari A sampai Z, disini saya berperan sebagai pendengar sejati dan sesekali memberi saran. Namun, ada satu pertanyaan dimana yang membuat saya terdiam sejenak, dan membuat saya berfikir lebih lama dan mencoba untuk mengambil jawaban dari sisi manapun. 

Bisa jadi, pertanyaan ini pernah saya alami.
Bisa jadi, pertanyaan ini teguran dari Allah.
Bisa jadi, pertanyaan ini pembuka mata kita.

Si A dan Si B mempunyai hubungan. Akan tetapi semakin kesini kefahaman Si A terhadap agama insyaAllah semakin bertambah. Si A ingin menjauh dari si B, dengan maksud untuk terhindar dari dosa. Setelah Si A memberi penjelasan akan maksudnya, Si B malah menghakimi "Jadi kamu sudah ngga sayang lagi? Percuma saya dari dulu berjuang. Kenapa kita tidak bisa seperti orang lain yg sama berjuang untuk mempertahankan hubungan ini. Ini hati, jangan suka mainin perasaan orang." Mendengar jawaban dari Si B akhirnya Si A hanya bisa diam, sungguh dia kewalahan dengan hal tersebut.

Bismillah..
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk."  (QS.25:20)

Mungkin yang sedang terjadi antara Si A dan Si B adalah miscommunication. Langkah mereka sekarang ini jelas sudah tidak sama lagi seperti dulu. Si A yang sedang dalam proses memantaskan diri, dalam proses meningkatkan kefahaman agama. Sedangkan Si B tidak melakukan seperti apa yang dilakukan Si A. 

Bukankah dalam suatu hubungan harus memilki tujuan dan langkah yang sama? 

Masalah agama menurut saya, termasuk hal yang sangat senstif dan krusial. Apalagai jika masalah agama ini ada di antara pasangan. Pantas saja Si B tidak mengerti tentang penjelasan Si A yang mempunyai maksud untuk terhindar dari dosa karena berhubungan yang "tidak halal" dengan lawan jenis, toh Si B tidak memiliki kefahaman agaman seperti Si A.

Menurut saya, kalaupun mereka tetap ingin bersama, Si B harus ikut menyamakan langkahnya dengan Si A, yaitu meningkatkan kefahaman agamanya pula. Tentunya di dalam jalur dan koridor yang lebih benar. Pastinya, diikuti dengan hati dan "niat" yang memang tulus ingin mendekat kepada-Nya, bukan hanya gara-gara Si A.

Pemikirannya gini, Si A saja sudah mulai untuk mendekat kepada Allah, mengapa Si B juga tidak sama-sama ikut mendekatkan diri kepada Allah? Toh dengan begitu, mereka nantinya malah bisa terus sama-sama mempertahankan hubungan mereka dalam ikatan yang halal, yang diridhoi oleh Allah.

Jika Si B mau menyamai langkah dengan Si A, sesuai di dalam jalur dan koridor yang sama. Dan apabila dia bisa, itulah perjuangan yang sesungguhnya. 

Bukankah hubungan yang baik itu adalah hubungan yang bisa mendekatkan diri ke Allah SWT?

Bukankah hubungan yang baik itu adalah hubungan yang surga-mensurgakan bukan menerakakan?

Bukankah hubungan yang baik itu adalah hubungan yang saling memperbaiki satu dengan yang lain?

Pada akhirnya, kalau Si B tetap tidak mau menyamai langkahnya dengan si A. Lebih baik lepaskan dan jauhi sejauhnya. Mohon maaf, ini masalah agama yang tidak bisa dirubah, ditukar, dan dicacati hanya karena urusan dunia.


Wallahu a’lam

اَلْخـَبِيـْثــاَتُ لِلْخَبِيْثـِيْنَ وَ اْلخَبِيْثُــوْنَ لِلْخَبِيْثاَتِ وَ الطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِيْنَ وَ الطَّيِّبُوْنَ لِلطَّيِّبَاتِ.

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang .baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." (Qs. An Nur:26)


Wahai sahabat, kamu ini termasuk wanita yang dicintai oleh Allah. Yakinkan didalam hatimu, beranikan diri, huznudzon. Allah bersama perangsakaan hambanya. Semoga Allah paringi manfaat dan barokah.

Wassalamualaikum,



Annisa Anggraeni